Kisah Tentang Pria Perokok dan Istrinya yang Bawel
Pria ini sudah siap untuk berangkat umroh, ia juga telah menyediakan beberapa rokok di kopernya. Setelah sholat dzuhur, ia bersiap menuju bandara, tentu saja bersama si bawel, kekasih setianya.
Pria ini tak pernah memiliki handphone apa lagi mengaplikasikannya, agar komunikasi terjaga, istrinya, si bawel memberikan handphone miliknya kepada suaminya, yang tentu saja saat itu tengah asik merokok.
Pria ini tak pernah memiliki handphone apa lagi mengaplikasikannya, agar komunikasi terjaga, istrinya, si bawel memberikan handphone miliknya kepada suaminya, yang tentu saja saat itu tengah asik merokok.
Dengan sabar, dia ajari suaminya cara berkomunikasi dengan handphone itu, dan dia menggunakan handphone usang untuk bisa komunikasi dengan cintanya itu.
Di bandara, tampak dikejauhan suaminya asik menghabiskan waktu dengan rokoknya. Beberapa kali suaminya di panggil untuk konfirmasi keberangkatannya, dan tentu saja si bawel ini jengkel.
Hingga terakhir kali perokok ini merokok di samping istrinya yang ia cinta, cuek memang, tetapi benar cintanya bgitu besar. Tak perlu ia berkata, tatapannya saja sudah membuktikan betapa ia mencintai si bawel ini.
Istrinya yang jengkel tengah marah, menyadari ia sedang ditatap penuh cinta oleh suaminya, ia berkata "Aku tahu kau tengah menatapku, dan aku tak mau menatapmu. Sana, bermesraan dengan rokokmu, merokoklah sepuasnya."
Dengan penuh cinta, suaminya yg hanya bicara sebutuhnya, cuek, dan dingin, menjawab dengan nada lembut "Ayolah, sekarang aku disampingmu, aku hendak pergi jauh, dan kau marah padaku? Dua pekan memang waktu yang sebentar, tetapi akan lama karena tidak ada kau disampingku, seperti kita menghabiskan hari-hari kemarin bersama."
"Kau bilang kau hendak beribadah, mengapa sibuk merokok? Bagaimana jika kebiasaanmu itu kau bawa ke sana? Kau terbiasa mengahbiskan satu batang rokok saat adzan berkumandang, di sana jika kau seperti itu maka kau akan shalat diluar. Dan aku tak mau itu terjadi." Jawab istrinya yg masih marah.
Suaminya diam, dan tetap merokok. Hingga waktunya tiba, ia harus pergi. Ia memeluk saudara-saudaranya, dan terakhir, memeluk istrinya.
Siapa sangka? Ibunya meninggal ia tak menangis, kakaknya meninggal ia juga tak menangis. Tetapi memeluk istrinya? Ia menangis. Sepasang kekasih itu saling berpelukan, saling meminta maaf. "Maafkan aku, aku hanya ingin kau fokus beribadah, aku tak benar-benar marah padamu. Kalau kau pulang nanti, merokoklah sepuasmu, aku akan menyuguhkan rokok sebanyak-banyaknya, awas saja kalau kau tak mampu menghabiskannya." Kata istrinya terharu.
"Sudah, tak apa, aku mengerti atasmu. Maafkan aku karena menyulitkanmu. Kau doakan aku yah? Dan aku akan meminta untukmu kesana juga setelahku. Lihatlah koper ini, (pria ini menunjuk kearah tempat penyimpanan foto di koper sebagai tanda pemilik koper, disana terdapat foto mereka berdua) aku membawamu bersamaku." Jawab perokok itu.
Suasana semakin haru dan berat, terlihat pria itu mengambil sesuatu dari sakunya lalu memberikannya kepada istrinya, "Ambillah korek ini, aku tak mau merokok disana, seperti yang kau mau. Tapi ingat janjimu, sepulangku dari sana, kau akan memberikanku rokok yang banyak kan?" Katanya.
Istrinya menangis, "Ya, sepulangmu nanti, ambillah rokok sepuasmu dari warung kita. Aku tak akan memarahimu lagi karena merugikan usaha kita dengan terus mengambil rokok secara gratis. Tak akan aku mengeluh lagi, asal kau benar beribadah disana."
Begitulah cinta mereka, mereka tak banyak bicara, tetapi selalu bersama. Terlihat tak saling peduli tetapi cinta mereka begitu besar.
Hari-hari terus berlalu, hingga suatu hari perokok ini menelfon.
"Aku melihat gaun yang indah, sepertinya cocok untukmu. Harganya juga tidak mahal, sudah lama juga aku tak membelikanmu pakaian." Kata pria perokok itu di telfon.
"Ya, sudah lama kau tak memberiku hadiah. Tetapi, sekarang keadaannya berbeda. Dulu kita cuma berdua, sekarang kita memiliki 5 orang anak. Kau, simpanlah uang itu. Tak perlu kau beri aku hadiah seperti itu. Pakaian yang kau berikan padaku dulu masih banyak dan juga masih bagus kan. Sekarang, kau doakanlah anak-anak kita. Doakan putri-putri kita menjadi putri yang baik pekertinya, dan doakan putra kita agar lembut pekertinya. Itu saja pintaku. Dan jika memang kau hendak membelanjakan uang itu, maka belilah kurma. Sekiranya itu lebih bermanfaat, dan jangan lupa air zam-zamnya. Oh iya, mengapa kau tak memotret dirimu disana? Hari ini kau juga lambat menelfonku." Jawab istrinya.
"Aku lambat menelfonmu tentu aku punya alasan, kabarkan kepada anak-anak kita untuk sujud syukur. Saat semua teman-teman jama'ah pergi berjalan-jalan, aku tetap disini dan mengumrohkan atas kalian. Sungguh, aku tak bermaksud untuk tak berkabar."
"Kau ayah yang hebat untuk anak kita dan kau telah menjadi suami terbaik di dunia ini, terima kasih untuk selama ini, dan untuk masa-masa bersama kita sampai surga-Nya."
"Tentu saja aku ayah yang hebat, dan kau? Kalau tak ada kau dihidupku aku tak akan seperti ini. Kau istri tersabar walau kaulah yang terbawel. Tentu saja, kau juga ibu terhebat untuk anak-anak kita."
Begitulah mereka berbicara di telp, seolah aku tak mendengarnya. Mereka memang orang tua yang hebat. Mustahil aku sampai sini kalau bukan dukungan mereka.
Lagi, aku bersyukur kepada Allah yang menjadikanku anak mereka. Entah bagaimana aku jika bukan lahir dari rahim ibuku yang indah bagai bidadari itu dan ayah yang dengan keduanya aku belajar banyak hal.
Terima kasih karena telah menjadi ayah dan ibuku. Terima kasih telah merawatku. Terima kasih, hehe.
- End?
Tetaplah menjadi sosok yang bermanfaat bagi sesama ya
BalasHapusJangan pernah menyerah untuk berbuat baik
Ingat
Memang lelah terkadang ketika berbuat baik
Namun lelahhnya akan hilang
Pahalanya tetap pajala nya akan tetap ada.