Agama dan Kemanusiaan
Agama dan kemanusiaan merupakan dua hal yang tak terpisahkan. Bukan hanya pada agama Islam, tetapi agama yang lain juga. Seperti yang terdapat dalam Agama Hindu dalam ajarannya terkenal dengan ajaran Tat Twam Asi (aku adalah engkau, engkau adalah aku) yang maksudnya kita semua berasal dari tempat yang sama, atau dalam ajaran Pancasila Buddhisnya yang melarang untuk membunuh karena harus memahami hak hidup dan hak-hak kebebasan individu, dan ajaran-ajaran Buddha lainnya.
Berangkat dari situ, Dalam agama Kristen,Yesus Kristuspun menekankan nilai-nilai kemanusiaan. Agama Kristen mengajarkan untuk cinta kasih antara sesama manusia, dimana kita diajarkan untuk mencintai sesama tanpa membedakan agama, ras, latar belakang, dan saling menghargai satu sama lain. Dalam agama Kristen, cinta kasih bukan hanya berhenti sampai di bibir, tapi harus diperagakan. Cara memperagakannya yaitu kita tidak boleh sombong, bersifat angkuh, kasar, dan lain-lain, karena kasih itu sabar, kasih itu murah hati, tidak cemburu, tidak sombong. Kasih tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri.
Agama Konghucu ajarannya menekankan rasa setia kawan, menanam rasa simpati dan kerja sama dari lingkungan keluarga sampai masyarakat luas. Pandangan Konghucu tentang dunia, bahwa dunia itu dibangun atas dasar moral, jika masyarakat dan negara moralnya rusak, maka terjadilah kekacauan, seperti perampokan, pembunuhan, korupsi, dan lain-lain. Menurut agama Konghucu, kekacauan berasal dari kesenjangan. Jadi, masing-masing pihak harus menduduki tempatnya masing-masing agar keseimbangan tidak terganggu. Dalam kehidupan timbal balik, agama Konghucu mengajarkan agar jangan berbuat pada orang lain jika kita tidak ingin orang lain berbuat pada kita. Agama Konghucu menganggap yang dimiliki orang sejak lahir yaitu kebesaran hati, sifat berbudi, kesopanan, dan kebijaksanaan. Jadi jika seseorang bersifat jahat, maka sifat itu tidak bawaan sejak lahir. Perasaan malu, haru, sopan, dan hormat merupakan sifat dasar manusia. Rusaknya sifat dasar manusia itu karena hubungan hidup yang kasar.
Dari ketiga agama di atas, dapat kita pahami bahwa, jauh dari perbedaan agama, kita tetaplah manusia yang sama-sama merasa nyaman ketika kita diperlakukan layaknya manusia. Hal inilah yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw. Selain dari banyaknya riwayat hadis tentang betapa Rasulullah sangat memanusiakan manusia, ada banyak ayat al-Qur’an yang mengakui akhlak Rasulullah, salah satunya yaitu:
Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (Q.S Al-Qalam [68] : 4)
Muhammad sebagai Suritauladan
Dalam sebuah riwayat yang masyhur dikatakan bahwa setiap Nabi Muhammad Saw hendak berangkat ke masjid selalu saja ditemukan kotoran manusia menghalangi jalannya. Rasulullah tahu jelas siapa yang melakukan hal tersebut, namun Rasulullah tidak pernah mempermasalahkannya. Hingga pada suatu waktu, dimana kotoran itu tidak lagi menghalangi jalan beliau. Rasulullah pun menanyakan mengapa kotoran tersebut tak lagi ada. Ternyata, orang yang biasa mengerjai Rasulullah sedang sakit. Bukan senang, tetapi Rasululullah pergi untuk menjenguk orang Yahudi itu, kemudian mendoakannya agar lekas sembuh. Hal ini menyebabkan orang Yahudi tersebut terharu karena kebaikan Rasulullah.
Pesan kemanusiaan lain juga sangat jelas disampaikan Rasulullah dalam haji wada’ pada tahun ke-10 hijriah. Saat itu Rasulullah seperti memberi isyarat melalui pidato tentang tanda-tanda bahwa beliau akan meninggalkan dunia ini. Para sahabat yang peka akan tanda-tanda itu tak kuasa membendung tangis dan haji wada’ itu pun diwarnai banjir air mata dan kesan yang mendalam. Di tengah suasana haru biru tersebut, sebuah pesan substansial keluar dari lisan Rasulullah:
"Wahai manusia, ingatlah, sesungguhnya Tuhanmu adalah satu, dan nenek moyangmu juga satu. Tidak ada kelebihan bangsa Arab terhadap bangsa lain. Tidak ada kelebihan bangsa lain terhadap bangsa Arab. Tidak ada kelebihan orang yang berkulit merah terhadap orang yang berkulit hitam. Tidak ada kelebihan orang yang berkulit hitam terhadap yang berkulit merah. Kecuali dengan taqwanya.." (HR. Ahmad, al-Baihaqi, dan al-Haitsami). Pidato Rasulullah tersebut pengandung pesan yang mendalam atas nilai-nilai kemanusiaan. Beliau memulainya dengan seruan “yâ ayyuhan nâs” (wahai manusia). Rasulullah tentu tahu bahwa pada momen haji wada’ mayoritas—bahkan mungkin semuanya—yang ada di hadapan beliau adalah orang mukmin. Tapi Nabi tidak menggunakan redaksi “yâ ayyuhal ladzîna âmanû” (wahai orang-orang beriman). Hal ini menandakan bahwa substansi ajaran yang beliau pidatokan bersifat universal, berlaku untuk seluruh manusia. Pidato tersebut keluar lebih dari 10 abad sebelum deklarasi Hak Asasi Mansia (HAM) oleh PBB pada 1948. Hadits Nabi tersebut menegaskan kembali tentang prinsip tauhid, juga tentang muasal bapak yang satu (yakni Nabi Adam), baru disusul peringatan tentang prinsip kesetaraan manusia. Lagi-lagi ini meneguhkan logika yang di awal tadi disampaikan bahwa berangkat dari tauhid, pengakuan terhadap kesetaraan manusia muncul. Manusia bersumber dari satu leluhur yang dimuliakan Allah sehingga tidak boleh seorang pun membuat klaim keistimewaan bangsanya, rasnya, bentuk fisiknya, asal daerahnya, dibandingkan orang lain. Soal derajat kemuliaan, Islam memberi kriteria khusus, yaitu takwa. Artinya, segenap prestise manusia diukur oleh dan dikembalikan kepada Allah subhanahu wata’ala. Hal ini juga senada dengan seruan lain dalam Al-Qur’an:
"Wahai manusia sesungguhnya Kami menciptakan kamu sekalian dari seorang pria dan seorang wanita dan kami menjadikan kamu berbagai bangsa dan suku, agar kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantaramu di sisi Allah ialah orang yang saling bertaqwa". (Q.S. al-Hujarat:13).
Agama memang seharusnya menjunjung tinggi kemanusiaan terlepas dari perbedaan yang dimiliki agama satu dengan agama yang lain. Karena pada dasarnya, agama hanya menyeru pada kebaikan, termasuk konsep kemanusiaan. Saya tidak tahu agama lain pemahamannya seperti apa, tetapi dari apa yang saya paparkan di atas, baik Islam, Buddha, Kristen, dan Konghucu, semuanya memiliki konsep kemanusiaan. Wallahu a’lam.
Mantap
BalasHapus