Tiba-Tiba Rambut Bapak Seputih Itu



Kekanakan?
Tidak apa, karena saya tidak peduli.
Saya hanya ingat, waktu itu saya kesulitan mensejajarkan langkah kakiku dengan langkah kaki bapak.
Ketika saya harus setengah jinjit agar tangan saya sampai ke tangan bapak untuk digenggam saat hendak jalan kaki bersama.
Ketika lingkar tangan saya tidak cukup untuk mengelilingi pinggang bapak saat dibonceng dengan motor trail kunonya.
Ketika tidak sengaja saya terkena rokok bapak yang panas dan langsung bapak obati.
Ketika saya tidur dipelukan bapak saat saya mendapat nilai 10 sebanyak 20 kali.
Ketika saya menangis, bapak menggendong saya dengan ketenangannya yang menenangkan.
Ketika saya duduk di pundak bapak, memeluk kepala bapak karena takut terjatuh, dan tertawa lepas karena bapak joget, lari kesana kemari mengelilingi rumah. Sungguh rasa takut yang menyenangkan.
Ketika saya bermain dengan bapak, dengan permainan kaki siapa yang lebih panjang, dan saya selalu menang.
Ketika saya malas makan, bapak membulatkan nasi seperti bola pingpong, lalu menyuapiku sambil bermain.
Ketika bangun tidur saya menyetor punggung saya yang gatal untuk digaruk dengan tangan besar bapak yang kasar.
Ketika saya duduk diruang tamu sambil memandang keluar lewat jendela, bapak pulang dengan senyumannya sambil membuat ekspresi yang konyol.
Ketika saya rindu karena bapak tidak dirumah.
Ketika saya menyambut bapak pulang, dan meminta apapun yang bapak bawa untuk saya.
Ketika saya geli karena bapak membuat saya menyentuh janggut bapak yang mulai tumbuh lagi. Atau geli karena bapak menempelkan janggutnya di pipi saat menicum saya.
Ketika saya memasukkan tangan saya ke saku bapak dan mengambil permen milik bapak kemudian lari, dan bapak tertawa.
Ketika bapak membuat kandang agar saya tidak kemana-mana tetapi bapak tetap menemani di dalam kandang.
Ketika saya baru belajar tentang rokok dan melarang bapak merokok, bapak pura-pura tidak tahu kalau bapak sudah tahu bahaya rokok. Bahkan malah menanyakan balik pelajaran rokok di sekolah seperti apa, seraya mengetes anaknya benar belajar di sekolah atau bermain.
Ketika saya berdiri atau duduk atau baring, dan lansung di culik oleh bapak dengan kalimat "anak jagoku ini".
Ketika saya terkejut di gendong oleh bapak karena dibuat seolah-olah saya akan jatuh ke lantai tapi tidak. Kemudian di ulang lagi beberapa kali dan saya tetap terkejut.
Lalu, tiba-tiba saja rambut bapak seputih itu.
Dan aku selalu khawatir kalau suatu waktu Allah memanggil bapak dan saya tidak ada disamping bapak.
Saya sampai merasa tidak ingin pergi jauh dari bapak.
Tetapi di sisi lain saya tidak tahu juga harus melakukan apa untuk bapak, selain berusaha menjadi anak baik.
Kemudian, saya tidak tahu anak baik menurut bapak itu seperti apa, karena bapak jarang bicara.

Singgasana, 20 Desember 2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Agama dan Kemanusiaan

Tentangmu