Malam itu sedikit berbeda, sebab hari-hari biasanya monoton, berulang seperti itu saja. Jadi, agaknya begadang lebih nikmat, bersama secangkir susu coklat tawar dan secangkir kopi manis untuk ayah. Bersama dengan secangkir minuman hangat yang mulai dingin, malam yang dingin kini menjadi hangat. Mungkin karena suara kami yang bercerita terlalu panjang, lebih panjang daripada dongeng, hingga penduduk rumah terlelap mendengarnya, kami bahkan lupa untuk meminum isi cangkir kami. Mungkin bagi sebagian orang pembicaraan kami itu membosankan, tapi bagiku tidak. Bahkan, hal yang tidak penting menjadi penting bagiku, bila ayah yang bilang hehe. Kesimpulannya, malam yang dingin itu hangat, sebab aku jatuh cinta untuk yg kesekian kalinya, kepada sosok yang sama. Sosok yang mendampingi ibu. Sosok yang aku selalu ingin bersamanya, selamanya. Juli, 2020